BAHAN BAKAR RUMAH TANGGA DARI SAMPAH

Jenderal Sampah” yang tak Henti Berinovasi

SEJATINYA di lingkungan Korem 062/Tarumanegara belum ada tentara yang berpangkat jenderal. Pangkat tertinggi di sana adalah kolonel, yang disematkan kepada perwira dengan jabatan komandan korem (danrem). Meski demikian, ada seorang prajurit TNI AD di satuan tersebut yang kerap dipanggil “jenderal.” Namanya Ujang Solikhin.

Memang, panggilan “jenderal” kepada Ujang Solikhin bukan dalam konteks kepra-juritan karena pangkat Ujang sebenarnya masih sersan dua (serda). Panggilan “jenderal” lebih sebagai bentuk penghargaan orang atas prestasi dan jerih payah yang telah dilakukan Ujang di luar urusan ketentaraan, yakni di bidang lingkungan.

Ya, dalam kapasitasnya sebagai prajurit infanteri aktif, Ujang tergolong giat dalam bidang lingkungan, khususnya dalam soal inovasi mencari dan mengembangkan sumber-sumber energi alternatif dan terbarukan. Setelah melalui serangkaian uji coba dan pengembangan bertahun-tahun. Ujang sukses memanfaatkan sampah organik menjadi sumber energi alternatif berupa briket arang.

Hasil inovasinya berupa briket arang bukan saja telah membantu banyak orang dalam memenuhi kebutuhan energi yang murah dan ramah lingkungan, tetapi juga bisa dijadikan sumber penghasilan masyarakat. Projek pembuatan briket arang yang “dikomandani” Ujang telah berubah menjadi unit usaha kecil melibatkan ribuan orang dengan pola home industry di beberapa kecamatan di Kabupaten Ciamis.

Dari sanalah pria kelahiran Ciamis 15 Juni 1968 itu mendapat julukan “jenderal.” Kadang disebut “Jenderal Briket Arang,” kadang dipanggil pula dengan sebutan “Jenderal Sampah.” Namanya kian populer, tak hanya di Kab. Ciamis, tetapi juga di Jawa Ba- rat, dan tanah air. Apalagi, pada 8 Juni 2010 lalu, ia mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden RI untuk kategori Perintis Lingkungan 2010.

“Terserah orang mau manggil saya dengan sebutan apa. Mau Jenderal Briket Arang atau Jenderal Sampah, enggak masalah. Yang paling penting buat saya bukanlah sebutan, tapi karya. Kalaukarya saya bermanfaat buat banyak orang, saya sangat senang,” kata Ujang Solikhin merendah.

Ramah lingkungan

Bisa jadi, Ujang Solikhin adalah sosok unik dan langka. Amat jarang pegiat lingkungan yang berlatar belakang tentara. Lewat berbagai inovasinya, Ujang pun seolah ingin membalikkan paradigma lama yang keliru di masyarakat seputar pengembangan energi alanternatif dan terbarukan.

Selama ini ada kecenderungan, masyarakat memahami upaya mencari dan mengembangkan energi alternatif sebagai kegiatan yang sulit dan mahal. Selain itu, tugas mencari dan mengembangkan energi alternatif, hanyalah milik pakar dan pegiat lingkungan. Akibatnya, upaya pencarian energi alternatif cenderung jalan di tempat. Sebatas ramai di ruang diskusi dan seminar, tetapi nol implementasi.

Ujang membuktikan, mencari dan mengembangkan energi alternati, tidaklah sesulit yang dibayangkan. Alasannya, sumber-sumber energi tersedia begitu melimpah ru-ah di tanah air. “Mestinya rakyat kita tidak kesulitan memenuhi kebutuhan energinya. Negara kita sangat kaya akan sumber-sumber energi. Masalahnya adalah ada tidak kemauan kita untuk memanfaatkan sumber-sumber energi itu,” kata Ujang.

Keterlibatan Ujang dalam pembuatan briket arang berawal dari keprihatinannya terhadap fenomena tingginya ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) dalam memenuhi kebutuhan energinya. Padahal, harga BBM dipastikan tiap tahun naik dan akan sangat memberatkan masyarakat, khususnya warga miskin. Sementara itu, pada saat yang sama, Ujang juga merasa prihatin dengan tumpukan sampah (organik) yang dibiarkan begitu saja.

“Yang menjadi pikiran saya waktu itu, tidak hanya mencari sumber bahan bakar alternatif yang murah dan terjangkau, tetapi bagaimana menghasilkan sumber bahan bakar dari materi yang terbuang, yakni sampah,” kata Ujang menjelaskan latar belakang keterlibatannya dalam menghasilkan briket arang.

Menurut Ujang, ide pembuatan briket arang berbahanbaku sampah organik didasari oleh pengamatannya terhadap mekanisme pembakaran kayu. Hal itu berawal pada 1999, saat di bertugas di daerah Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. “Saya tiba di sana sore hari dan kebetulan melihat ada orang membakar hutan. Ternyata pagi harinya, dari kayu-kayu yang terbakar itu, sebagian sudah menjadi abu, sebagian lagi masih menyala.” kata Ujang.

Dari hasil pengamatannya, Ujang pun berkesimpulan, pada jenis kayu yang rapuh, proses pembakaran berlangsung cepat. Apalagi pada proses pembakaran terbuka di mana unsur oksigen (O2) terlalu banyak, sisa pembakaran bukan menghasilkan arang, melainkan abu. Pada pembakaran terbuka, unsur karbon (C) tidak terikat.

Mekanisme itulah yangmemberi Ujang keyakinan, dengan teknik pembakaran terkendali, dengan oksigen (O2) dibatasi, kayu atau materi yang dibakar tidak akan langsung luruh menjadi abu. Pembakaran akan menghasilkan kristal arang hitam dengan unsur karbon (C) tinggi. Kristal arang hitam pekat inilah yang kemudian lebih dipadatkan lagi dalam bentuk briket sehingga bisa menghasilkan bara api yang lebih kuat dan tahan lama.

“Setelah diuji dan dianalisis, ternyata bisa. Bahkan, bukan hanya kayu, seluruh sampah organik seperti kulit rambutan, sabut dan batok kelapa, daun-daunan, serbuk ger-gaji, hingga eceng gondok bisa dijadikan bahan baku briket arang. Bahan paling bagus adalah batok kelapa,” kata lulusan Jurusan Listrik STM Dr. Soetomo Cilacap ini.

Ujang berpendapat, ada banyak keuntungan menggunakan briket arang. Di samping kalirinya sangat tinggi yakni mencapai 6.000 – 7.000 kalori, briket arang juga punya kerapatan yang sama, pemakaian relatif lama, dan tak mengandung zat berbahaya sehingga aman sebagai bahan bakar rumah tangga dan industri. “Dibandingkan batu bara, briket arang bisa lebih cepat menyala. Sementara mengenai ukuran dan bentuk, bisa disesuaikan sesuai kebutuhan,” katanya.

Penggunaan briket arang berbahan baku sampah organik ini dinilai sangat ekonomis. Bahan bakunya bisa disebut sangat berlimpah, yakni sampah-sampah organik yang bertumpuk dengan volume yang terus bertambah. Nilai konversinya mencapai sepuluh persen. Artinya, dari ba-han 10-15 kg sampah organik bisa dihasilkan sekitar 1 -1,5 kilogram briket arang, bergantung jenis sampah. Makin tinggi kadar air sampah, makin rendah nilai konversinya menjadi briket arang.

Sementara itu, dari sisi harga, juga relatif lebih kompetitif daripada bahan bakar minyak. Waktu itu (2006), harga briket arang buatan Ujang berkisar Rp 1.900-2.000 per kilogramnya. Nilai efisiensi 1 kg briket arang setara dengan 1,5 liter minyak tanah. Dengan asumsi 1 liter minyak tanah bisa digunakan untuk memasak selama dua jam, sedangkan 1 kg briket arang bisa tahan selama 4-6 jam. Kalori yang dihasilkan juga cukup tinggi, yakni mencapai 6.000 – 7.000 kalori.

“Sebenarnya harga bisa ditekan lebih rendah lagi, jika produksinya bisa massal,” kata Ujang yang dengan bendera Asosiasi Pengrajin Arang Briket Ciamis (Apabric) memberdayakan para pemuda di sejumlah kecamatan Ciamis berkreasi menciptakan lapangan kerja sendiri.

Agar bisa memanfaatkan briket arang, dibutuhkan kompor khusus yang desainnya hampir sama dengan kompor briket batu bara. Seperti halnya kompor minyak tanah, tinggi rendahnya panas bisa diatur dengan mena-ikturunkan wadah briket. Pada bagian bawah kompor, disediakan penampung abu sisa pembakaran briket. “Sisa abu pembakaran briket bisa digunakan untuk keperluan lain, seperti mencuci piring di dapur, kompos, membuat telur asin, atau keperluan lain,” kata Ujang.

Kini, ribuan orang di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Banjar terlibat dalam projek briket arang hasil inovasi Ujang. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok perajin briket arang, anglo, tungku, peti, hingga kemasan briket yang siap dijual kepada masyarakat. Investor asal Jepang tertarik membangun pabrik briket arang dalam skala besar.

Ujang pun makin sibuk berbagi ilmu hingga ke luar daerah, bukan hanya di Jawa Barat, tetapi juga hingga Bali dan Lampung. Juara Terbaik Indonesia Creative Idol 2008 kategori ilmu terapan yang diselenggarakan oleh PT Cam Solution ini punya misi, ingin lebih memperluas penerapan teknologi pembuatan briket arang dari sampah ke seluruhpenjuru tanah air. “Saya ingin mendidik masyarakat mencintai sampah dengan memanfaatkannya menjadi sumber energi,” kata suami dari Dian Mardiani dan ayah dari M. Syarief Ginannjar (16), Dwi Yudha Aji Nugraha (14), dan Awalia Yoana Febriani (4) ini.

Kemandirian rakyat

Bagi pegiat lingkungan, bisa jadi, Kalpataru merupakan anugerah tertinggi di negeri ini. Apakah Kalparu telah cukup memuaskan Ujang?

Ternyata tidak. Ujang justru menjadikan Kalpataru sebatas simbol pengakuan dan penghargaan atas upaya yang selama ini telah dilakukannya. “Saya berterima kasih dan bersyukur telah diberi Kalpataru. Tetapi, saya tak akan berhenti hanya karena itu (mendapat Kalpataru). Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam soal pencarian energi alternatif,” katanya.

Ujang mengaku, saat ini ia tengah merancang dua projek pengembangan energi listrik untuk masyarakat miskin yang belum terjangkau oleh jaringan PLN. Yang pertama adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga gravitasi (PLTGav), yang khusus untuk masyarakat pedalaman. Berbeda dengan mikrohidro yang memanfaatkan air terjun, PLTGrav memanfaatkan arus air.

Sementara itu, yang kedua adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga angin, yang khusus ditujukan untuk masyarakat lepas pantai yang belum terjangkau jaringan PLN. “Dalam waktu dekat, saya akan uji coba pembangkit listrik tenaga angin di Pantai Pangandaran. Kebetulan sudah ada pegiat lingkungan yang mendukung,” kata Ujang.

Selain dua projek tersebut, Ujang juga bakal merekon-struksi instalasi pembangkit listrik mikrohidro di Curug Panganten, Desa Kepel, Kec Cisaga, Kab. Ciamis. Instalasi tersebut pernah digunakan Ujang bersama ayahnya untuk menghasilkan listrik mandiri bagi rakyat pada tahun 1985. “Kapasitasnya lumayan besar, sekitar 200.000 watt. Bupati siap membantu pendanaan pembangunan kembali instalasi tersebut. Ini semua biar rakyat lebih mandiri dalam penyediaan tenaga listrik,” tutur Ujang.

(Muhtar Ibnu Thalab/Harian Pikiran Rakyat – Bandung).

Posted on June 16, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: