Biopestisida : Memerangi Hama Tanaman dengan Ramuan dari Alam (Bag. I)

PENDAHULUAN
Pembasmian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida nabati adalah salahsatu komponen penting dari konsep pertanian organik, pertanian yang ramah lingkungan.

Sebetulnya membasmi hama tanaman dengan pestisida nabati bukanlah konsep baru yang dipicu oleh maraknya pertanian organik akhir-akhir ini. Pestisida nabati lahir dari kearifan nenek moyang kita dalam menyikapi gangguan hama dan penyakit tanaman. Sayangnya, ketika brbagai produk kimia pertanian beredar luas di pasaran, cara bijak itu pun dikesampingkan.

Memang pestisida sintetis memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan efektivitasnya, namun efeknya yang bisa meracuni lingkungan mengembalikan kesadaran kita untuk memanfaatkan unsur-unsur dari alam dalam membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) tersebut.

Sejauh ini pemakaian pestisida nabati aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Inilah keunggulan pestisida nabati yang sifatnya hit and run (pukul dan lari), yaitu bila diaplikasikan akan membunuh hama pada saat itu juga dan setelah itu residunya akan cepat terurai di alam. Karena sifatnya yang mudah terdegradasi, pestisida nabati harus sering disemprotkan pada tanaman.

Alam memang telah menyediakan bahan-bahan pestisida tersebut. Berbagai penelitian membuktikan beberapa tumbuhan mampu membasmi atau mengusir hama dan penyakit tanaman. Bahan-bahan alamiah tersebut hadir dalam jaringan tumbuhan seperti daun, bunga, buah, kulit dan kayunya.

Tercatat ada 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 234 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (Ir. Agus Kardinan, MS, Pestisida Nabati, Ramuan & Aplikasi, 1999). Tumbuh-tumbuhan ini dikelompokkan ke dalam: tumbuhan insektisida nabati, tumbuhan atraktan, tumbuhan rodentia nabati, tumbuhan moluskisida nabati dan tumbuhan pestisida serba guna.

PROSES PEMBUATAN & PENGGUNAAN

1. Untuk Mengendalikan Hama secara Umum
Bahan :
- Daun mimba : 8 kg
- Lengkuas : 6 kg
- Sereh : 6 kg
- Deterjen/sabun colek : 20 kg
- Air : 80 liter

Cara Membuat:
Daun mimba, lengkuas dan sereh ditumbuk halus dicampur dengan deterjen/sabun colek lalu tambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Direndam selama 24 jam kemudian saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut disemprotkan pada tanaman untuk luasan 1 hektar.

2. Mengendalikan Hama Trips pada Cabai
Bahan:
- Daun sirsak 50 – 100 lembar
- Deterjen/sabun colek 15 gr.
- Air 5 liter.

Cara Membuat:
- Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 liter air.
- Direndam selama 24 jam, saring dengan kain halus.
- Setiap liter Iarutan dapat diencerkan dengan 10 – 15 liter air.
- Aplikasi dengan menyemprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang ada hamanya.

3. Ramuan untuk Mengendalikan Hama Belalang dan Ulat
Bahan
- Daun sirsak 50 lembar
- Daun tembakau satu genggam
- Deterjen/sabun colek 20 gr.
- Air 20 liter.

Cara Membuat
- Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus. Tambahkan deterjen/sabun colek, aduk dengan 20 liter air, endapkan 24 jam.
- Disaring dengan kain halus dan diencerkan dengan 50 – 60 liter air. Aplikasi dengan cara disemprotkan.

4. Ramuan untuk Mengendalikan Hama Wereng Coklat, Penggerek Batang dan Mematoda
A. Bahan:.
1. Biji mimba 50 gr.
2. Alkohol 10 cc.
3. Air 1 liter.

B. Cara Membuat :
1. Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol, encerkan dengan 1 liter air
2. Endapkan selama 24 jam, saring dan dapat disemprotkan pada tanaman/serangga hama.

5. Ramuan untuk Mengendalikan Hama Tanaman Bawang Merah
Bahan:
- Daun mimba 1 kg.
- Umbi gadung racun 2 buah.
- Deterjen/sabun colek sedikit.
- Air 20 liter.

Cara Membuat:
Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, ditambah deterjen/sabun colek, aduk dengan 20 liter air, endapkan 24 jam, saring dan disemprotkan pada tanaman.

6. Ramuan untuk Mengendalikan Tikus
Bahan :
- Umbi gadung racun 1 kg.
- Dedak padi. 10 kg.
- Tepung ikan 1 ons.
- Kemiri sedikit.
- Air sedikit.

Cara Membuat :
Umbi dikupas, dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air dibuat pelet. Sebarkan pelet di pematang sawah tempat tikus bersarang.

7. Pembuatan EM5
Persiapan, langkah kerja pembuatan EM5, dan cara pemakaian/penggunaan EM5 adalah sebagai berikut :

A. Bahan :
1. Air cucian beras (leri) 1 liter (1.000 cc)
2. EM4 100 cc
3. Molase/gula pasir 100 cc/0,50 ons (50 gram)
4. Asam cuka makan (kadar 5%) 100 cc
5. Alkohol ( kadar 30%-40%) 100 cc

B. Alat :
1. Jerigen plastik
2. Gelas ukur

C. Cara Membuat :
1. Bahan-bahan tersebut di atas diaduk merata di dalam jerigen plastik dan kemudian ditutup rapat.

2. Setiap pagi dan sore hari dikocok, kemudian tutup dibuka agar keluar gasnya. Pekerjaan ini dilakukan terus-menerus selama 15 hari (30 kali kocok), dan jangan sampai lupa ada hari yang tidak dikocok pada waktunya (hal ini untuk memelihara kondisi an-aerobik).

3. Setelah selesai 15 hari, biarkan selama 5 hari lagi tidak usah dikocok dan dibuka, simpan di tempat yang teduh dan gelap agar proses peragian berlangsung dengan baik. Baru setelah itu dipergunakan. EM5 sudah jadi, tanda-tandanya bila produksi gasnya sudah berhenti dan berbau sedap yang khas. Bila baunya busuk, tandanya pembuatan EM5 gagal.

4. EM5 yang jadi harus disimpan di tempat yang relatif sejuk dan gelap serta suhu ruangan relatif stabil, tetapi jangan disimpan di dalam kulkas. EM5 harus sudah digunakan dalam waktu 3 bulan setelah selesai proses pembuatan.

D. Cara Penggunaan :
1. Campurkan 10-50 cc EM5 dengan 1 liter air.
2. Tambahkan 10 cc molase/gula pasir pada waktu akan menyemprot untuk melekatkan pada tanaman.
3. Kocok/aduk sampai merata,
4. Kemudian semprotkan pada tanaman waktunya sore menjelang malam hari; karena ulat biasanya makan daun dan lain-lain pada waktu malam hari.
5. Ulat biasanya tidak menyukai bau semacam ini, karena ulat akan menjadi lapar dan lama-kelamaan akan mati sendiri.
6. Campuran/larutan ini bisa dipergunakan untuk menyemprot buah (muda) guna mencegah serangan lalat buah.

Catatan :
1. Di alam, serangga dapat dipisahkan menjadi dua golongan berdasarkan sifat-sifatnya, yaitu :
a. Serangga bersifat sebagai hama/parasit
b. Serangga pencegah hama/predator. Pada serangga pencegah hama (predator) secara alami ia memangsa serangga-serangga hama. Dia bisa demikian karena di dalam tubuhnya ada zat antioksidan. Pada serangga pencegah hama, bila terkena semprotan EM5 justru zat antioksidan ini akan menjadi lebih aktif dan kuat.Namun sebaliknya pada serangga hama yang terkena semprotan EM5, maka badannya menjadi keriput/kisut/berkerut, kemudian karena tidak mau makan akhirnya mati. Kalau serangga hama tetap makan tanaman yang disemprot EM5 berarti juga makan zat antioksidan, maka pertumbuhannya menjadi terhambat/kurang. Bahaya serangan serangga hama akut tetap terhindar.

2. Mulailah penyemprotan EM5 dimulai sejak perkecambahan tanaman sebelum hama menyerang. Namun perlu diperhatikan, biasanya tanaman tertentu tidak tahan daunnya disemprot dengan campuran yang mengandung alkohol. Daun muda biasanya akan terbakar dan pertumbuhan menjadi kurang baik, terutama bagi tanaman semusim. Tanda-tandanya ada bintik terbakar pada daun.

3. Pembuatan EM5 dapat dicampur dengan bahan rempah-rempah (jahe, sirih, pinang, kunyit, kencur, sereh, dan sebagainya) yang diekstrak dahulu agar memberi aroma khusus. bahwa EM5 yang dicampur dengan ekstrak rempah-rempah menjadi lebih efektif. Penambahan ekstrak bahan organik yang mengandung obat-obatan seperti bawang putih, merica, lidah buaya, buah muda hasil penjarangan dan rumput-rumput muda tertentu sangat dianjurkan. Pencampuran EM5 dengan rempah-rempah jenis tertentu dengan tujuan untuk memberikan aroma khusus yang tidak disukai serangga. Rempah-rempah dan jenis tanaman obat juga mengandung antioksidan.

4. Penyemprotan tanaman dengan EM5 sebaiknya dilakukan secara teratur, misalnya setiap minggu sekali, pada sore hari atau setelah hujan lebat. Akan tetapi jika tanaman kita telah diserang hama sebaiknya penyemprotan dilakukan setiap hari.

5. Penggunaan EM5 dengan dosis yang berlebihan tidak menimbulkan efek residu seperti pestisida dan herbisida. Bahkan sebaliknya semakin banyak bakteri EM5 yang kerja lembur akan meningkatkan timbulnya zat antioksidan yang berarti semakin memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan demikian penggunaan obat-obatan bagi tanaman berkurang dan justru malah tidak diperlukan lagi, jadi jelas lebih efisien. (Anonim, Departemen Kehutanan Dan Perkebunan. Pusat Penyuluhan. 1998)

–bersambung

About these ads

Posted on June 20, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. saya sangat tertarik dengan ulasan pertanian lestari dalam hal ini dgn pengembangan pestisida hayati,karena saya juga penggiat bidang tersebut sejak saya berkecimpung di perusahaan pma breading tanaman holtikultura,dan samapi sekarang saya masih produksi pestisida hayati sampai ke pembenah tanahnya,mari berklreatifitas unruk negri lewat industri pertanian yang sehat untuk bangsa ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: