BAMBU, TUMBUHAN PALING ISTIMEWA DI BUMI

Bambu, tumbuhan yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, termasuk famili Gramineae,subkeluarga rumput. Bambu memiliki batang yang kuat tapi lentur, lurus, mudah dibelah, mudah dibentuk serta ringan. Karena sifat-sifatnya ini, bambu merupakan salahsatu spesies flora yang paling berguna bagi manusia dan sudah dimanfaatkan sejak nenek moyang manusia masih menghuni gua-gua alam, hidup dari buah-buah hutan dan berburu. Bambu ditemukan tumbuh di seluruh dunia kecuali Eropa, dan kedua wilayah kutub Bumi, Antartika dan Artik.

Dari 1.250 spesies bambu di planet ini 125 spesies adalah tumbuhan asli Indonesia. Karena itu tak heran bila berbagai bahasa dunia mengambil kata bambu dari kosakata bahasa Indonesia. Dari 19 spesies bambu yang paling bernilai ekonomi tinggi menurut International Network for Bamboo and Rattan (INBAR), lima spesies adalah tumbuhan asli Indonesia.

Bambu sudah ribuan tahun digunakan manusia untuk bangunan rumah, jembatan, pagar, wadah penampung air, nira ataupun tuak, pisau, tombak, panah, rakit, tiang bendera, cadik perahu, bubu dan bagan untuk menangkap ikan, keranjang, topi, tirai, tangga, kursi, meja, ranjang, dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya serta barang kerajinan. Banyak alat musik tradisional dibuat dari bambu misalnya angklung, suling, kolintang, sasando. Bambu juga dijadikan perlengkapan utama untuk tarian bambu di Flores dan Sulawesi dan permainan bambu gila di Maluku. Daun bambu dipakai untuk pembungkus makanan, bacang misalnya, dan batangnya juga untuk memasak berbagai makanan tradisional, misalnya lemang ataupun nasi jaha di Sulawesi Utara. Dalam bentuk sangat sederhana batang bambu dibelah menjadi ukuran kecil untuk sumpit, alat makan mi di warung tenda, gerobak mi sampai restoran mewah. Dan yang paling sederhana tapi luas digunakan dari rumah tangga sampai restoran besar adalah tusuk sate dari bambu.

Ketika petasan belum populer, meriam bambu dengan bahan bakar minyak tanah digunakan untuk menciptakan bunyi dentum. Meriam bambu hingga kini masih digunakan untuk menyemarakkan perayaan Lebaran di Kalimantan Selatan, Aceh dan juga berbagai daerah. Pada masa perjuangan kemerdekaan, para pejuang Indonesia melawan penjajah, sebagian hanya bersenjatakan bambu runcing. Nisan para pejuang pun diberi tanda dengan bambu runcing dan bendera merah-putih kecil. Sebagai pisau, bambu masih digunakan di pedalaman Papua untuk memotong daging dan sebagainya, dan di berbagai wilayah Indonesia masih digunakan sebagai pisau sunat. Budaya dari setiap suku atau kelompok etnik di Indonesia pasti bersentuhan dengan pemanfaatan bambu.

Beberapa jenis satwa sangat tergantung pada pucuk beberapa jenis bambu. Di Cina,  si beruang kecil panda dan di Madagaskar, salah satu spesies lemur, menjadikan pucuk muda dan daun bambu sebagai makanan utama. Manusia sendiri  sudah sejak lama memanfaatkan rebung beberapa jenis bambu sebagai makanan, dijadikan sayuran atau digulai dengan daging. Menurut Anang Sumarna, penulis buku Bambu dan Ketua Yayasan Pengembangan Bambu Indonesia (Yapbindo), bambu memiliki lebih dari 600 manfaat bagi manusia dan alam semesta.

Bambu mulanya hanya tumbuh liar, dari dataran rendah sampai pada ketinggian 1.500 m dapl (di atas permukaan laut). Tetapi kemudian beberapa jenis bambu dibudidayakan manusia, ditanam di pekarangan, di kebun. Ada yang  memanfaatkan batang-batangnya untuk berbagai keperluan, atau langsung menjadikan pohon-pohon bambu sebagai pagar hidup, penahan longsor bahkan sebagai tanaman hias.

 

Nilai Ekonomi Tinggi

Hampir semua jenis bambu bisa dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan. Tetapi ada beberapa spesies unggul karena bentuk, kelenturan, ketebalan dan kekuatan batangnya serta daya tahannya terhadap cuaca atau gangguan serangga misalnya bubuk  dan rayap.

Spesies bambu yang punya nilai ekonomi tinggi adalah : bambu serit  atau nama botaninya Gigantochla robusta, bambu andong (Gigantochla pseudoarundinaceae), bambu ater (Gigantochla atter), bambu hitam (Gigantochla atriviolaceae) bambu tutul (Bambusa maculata). Bambu tutul banyak di Jawa dan Bali, Maluku dan Nusa Tenggara, untuk funitur, alat musik, wadah penampung air, lantai, dinding rumah, busur dan panah, berbagai barang  kerajinan sampai perangkap tikus tradisional. Bambu betung (Dendrocalamus asper) untuk konstruksi, cadik perahu. Rebungnya enak. Jenis lainnya adalah bambu apus atau bambu batu (Gigantochla apus). Bambu batu merupakan spesies  paling kuat, tahan terhadap cuaca, digunakan sebagai bahan konstruksi.

Melihat begitu banyaknya jenis bambu serta pemanfaatannya yang luas, para ilmuwan merasa perlu mengembangkan kebun bambu sebagai tempat budidaya dan penelitian berbagai kemungkinan pengembangan bambu. Kebun koleksi bambu sedang dikembangkan di Pusat Pelatihan  Environmental Bamboo Foundation (EBF) di Penglipuran, Bali. Di Eropa, yang tidak mengenal tumbuhan bambu, penelitian tentang bambu juga dilakukan. Di Belanda, misalnya, bambu dikembangkan menjadi berbagai produk untuk  lantai pengganti keramik. Bahkan penggunaan secara tradisional di Indonesia seperti untuk ranjang atau tangga menjadi daya pikat dalam desain dan dekorasi interior orang Eropa. Selain kursi dan meja bambu, beberapa negara Eropa kini memesan banyak ranjang bambu bahkan juga tangga bambu dari Bali.Tangga bambu malah dijadikan hiasan ruang tamu.

 

Beberapa Spesies di BMC

Di Bumi Mandiri Center (BMC), Desa Sukamju, Kec. Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, rumpun bambu merupakan pemandangan yang dominan, terutama di bagian tepian sungai Cigunung yang  mengalir membelah kawasan BMC. Di antara pohon-pohon pisang, sukun, randu, enau dan kaliandra di tepi sungai, pucuk-pucuk batang bambu tampak menjulang. Gemericik air sungai Cigunung dan gemersik daun-daun bambu senantiasa menjadi musik alam sepanjang hari. Rumpun-rumpun bambu yang menjadi penahan longsor tebing sungai, juga menjadi atraksi tersendiri dalam kegiatan outbound di BMC. Para peserta meluncur flying fox dari tebing sungai, melewati pucuk-pucuk bambu dan kaliandra, melintasi sungai, kemudian mendarat beberapa meter dari rumpun bambu.

Di antara berbagai jenis bambu yang tumbuh menghiasi kawasan BMC, yang paling banyak adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). Rumpunnya rapat, panjang batangnya bisa mencapai 20 m dengan diameter 15 cm. Rebung bambu betung bisa dijadikan sayur yang enak, dan batangnya dijadikan saluran air, bahan konstruksi, dinding rumah, aneka barang kerajinan. BMC menggunakan bambu betung antara lain untuk saluran air, lantai kamar mandi bagi perkemahan, pancuran untuk mandi air pegunungan di tepi sungai Cigunung, rakit untuk permainan outbound. Ada beberapa bangunan, misalnya lumbung padi, hampir seluruhnya dari bahan bambu betung. Para pengunjung BMC yang lebih suka camping, malah menjadikan ranting bambu untuk  menyantelkan peralatan minum mereka.

Juga terdapat rumpun-rumpun bambu apus atau bambu batu (Gigantochla apus). Jenis bambu ini yang berumpun rapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dapl. Panjang buluhnya bisa mencapai 20 m dengan diameter 15 cm. Bambu batu adalah bahan baku yang baik untuk berbagai alat rumah tangga, kerajinan tangan, alat musik seperti angklung. Di tebing sungai Cigunung juga terdapat beberapa rumpun bambu tamiang atau nama botaninya Schizostachyum blumei, yang batangnya tidak terlalu besar, diameter sekitar 5 cm dan banyak digunakan antara lain sebagai penyangga tanaman tomat, tonggak dan para-para untuk tanaman merambat, penyangga pancuran air, tongkat untuk trekking sungai.

Jenis lain yang juga tumbuh di BMC adalah bambu kuning, nama ilmiahnya Bambusa vulgaris, banyak ditemukan di berbagai kawasan di Jawa. Rumpunnya agak jarang.Bambu kuning dapat tumbuh subur dari dataran rendah sampai dataran tinggi, sampai ketinggian 800 m dapl. Bambu kuning berwarna kuning bergaris-garis hijau atau hijau bertotol coklat. Buluh bambu kuning sangat kuat dan dijadikan bahan baku berbagai bentuk kerajinan dan bahan bangunan. Jenis ini juga banyak ditanam sebagai tanaman hias. Rebungnya juga dapat dimakan.

Bambu memang merupakani tumbuhan yang sangat istimewa sepanjang peradaban manusia.Dari penggunaannya secara sederhana, diberi sentuhan seni kriya, dijadikan berbagai peralatan rumahtangga sampai diproses menjadi  kertas atau dijadikan lantai gedung modern membuktikan bambu senantiasa memberi inspirasi bagi kreativitas manusia memanfaatkannya. (Yop Pandie)

Posted on June 6, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: